Sejak 1989

Riwayat singkat

Tiga dekade di depan bara yang sama.

Rembiga adalah nama kampung di utara Mataram — dan nama bumbu yang membuat sate ini dicari orang dari seberang pulau.

Juru bakar membolak-balik sate di atas bara arang
Asal usulnya

Rembiga

Bumbu yang tidak
pernah diubah.

Sate rembiga bukan sate manis. Daging sapi diiris tipis lalu dilumuri campuran cabai rawit, terasi bakar, gula merah, dan bawang — didiamkan sampai bumbunya benar-benar masuk, bukan sekadar menempel di permukaan.

Warung ini berdiri sejak 1989 di Jalan Dr. Wahidin, Rembiga. Sejak itu takaran bumbunya tidak berubah, dan panggangannya tetap memakai arang — karena bara memberi asap dan karamelisasi yang tidak bisa ditiru pemanas listrik.

Sekarang warung ini melayani sarapan sampai larut malam, menerima pesanan katering, dan mengirim sate sebagai oleh-oleh sampai ke luar kota.

Yang kami jaga

Tidak berubah

Tiga hal, itu saja.

01

Dibakar di atas bara

Bukan panggangan listrik. Arang kayu, kipas tangan, dan penjaga yang tahu kapan harus dibalik — itu asal aroma yang tercium dari seberang jalan.

02

Resep asli sejak 1989

Takaran bumbu yang sama sudah dipakai lebih dari tiga dekade, diturunkan di dapur keluarga tanpa jalan pintas.

03

100% sapi, halal MUI

Daging sapi asli bersertifikat Halal MUI. Bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh, dikirim sampai luar kota.

Kata tamu

Kata mereka

4,5 dari 5,
948 ulasan.

Yang paling sering disebut pelanggan di ulasan publik mereka.

  • Sate Rembiga
  • Plecing Kangkung
  • Sate Pusut
  • Bumbu pedas manis
  • Porsi mengenyangkan
  • Harga bersahabat
Lihat menu